MENGENAL KISAH KLASIK PENYAKIT KUSTA (part one)

PENDAHULUAN

GambarSepanjang sejarah peradaban manusia, selama itu pula kusta ada di dunia. Stigmatisasi sebagai manusia terkutuk karena dihinggapi penyakit menular tak tersembuhkan ini hingga kini masih menjadi ganjalan utama dalam memutus rantai penularan. Akibatnya, meski secara signifikan terjadi penurunan angka prevalensi, kasus-kasus baru selalu bermunculan.

Secara nasional target eliminasi atau penurunan jumlah kasus penyakit kusta sudah dicapai sejak tahun 2000 dengan angka prevalensi (jumlah kasus lama dan baru) kurang dari satu per 10.000 penduduk. Sayangnya hal itu tidak terjadi di 12 provinsi—terdiri dari 140 kabupaten/kota—yang tergolong endemik kusta.

Prevalensi di 12 wilayah itu masih berada pada kisaran angka 2,9. Artinya, di antara 10.000 penduduk rata-rata terdapat tiga penderita kusta. Wilayah-wilayah tersebut umumnya berada di bagian timur Indonesia, kecuali Nanggroe Aceh Darussalam dan Jawa Timur yang berada di wilayah barat.

Kasus baru selalu saja ditemukan di berbagai tempat. Terhitung sejak tahun 2000 rata-rata per tahunnya tak kurang dari 15.000 penderita kusta baru terdeteksi oleh petugas kesehatan.

Dalam hal ini Jawa Timur merupakan wilayah dengan jumlah penyandang kusta terbanyak. Proporsi jumlah kasus barunya sepertiga dari angka nasional. Sebagian penderita kusta terkonsentrasi di daerah tapal kuda atau sepanjang pantai utara Jawa Timur. Total ada 16 daerah endemis, antara lain, Kabupaten Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Lamongan, Situbondo, Mojokerto, dan Bojonegoro.

Secara keseluruhan jumlah penderita kusta tahun 2005 diperkirakan mencapai minimal 21.000 kasus. Di samping sulitnya menekan jumlah kasus, angka kecacatan yang ditimbulkan belum juga turun dari 8 persen per tahun.

Sepuluh persen di antaranya adalah anak-anak. Golongan ini patut mendapat perhatian karena penularan kusta terkait dengan daya tahan tubuh. Anak-anak satu setengah kali lebih mudah terpapar dibandingkan dengan dewasa.

Faktor usia, jenis kelamin, ras, lingkungan, serta rendahnya tingkat sosial ekonomi diduga mempunyai korelasi yang erat terhadap berkembangnya penyakit kusta. Kehidupan ekonomi yang pas-pasan akan mengakibatkan kekurangan pangan, sandang, dan papan, yang meningkatkan kerentanan tubuh terhadap penyakit.

Permasalahannya memang bukan terletak pada upaya pengobatan karena sejak Mycobacterium leprae, kuman penyebab kusta, ditemukan oleh Gerhard Armauer Hansen tahun 1873, terbukalah kesempatan yang memungkinkan kemajuan ilmu pengetahuan tentang penyakit kusta.

Kusta termasuk penyakit tertua. Kata kusta berasal dari bahasa India Kustha, dikenal sejak 1400 tahun sebelum Masehi. Kata Lepra ada disebut-sebut dalam kitab Injil, terjemahan dari bahasa Hebrew zaraath, yang sebenarnya mencakup beberapa penyakit kulit lainnya. Ternyata bahwa pelbagai deskripsi mengenai penyakit ini sangat kabur, apalagi jika dibandingkan dengan dengan kusta yang kita kenal sekarang ini.

DEFINISI

Kusta adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae yan terutama menyerang saraf tepi, kulit dan organ tubuh lain kecuali susunan saraf pusat.

SINONIM

Leprae, morbus Hansen.

EPIDEMIOLOGI

Mycobacterium leprae untuk pertama kalinya ditemukan oleh G.A Hansen dalam tahun 1873. Manusia dianggap sebagai sumber penularan. Namun akhir-akhir ini ada anggapan bahwa kuman Leprae bisa langsung menularkan kepada manusia. kusta mempunyai masa inkubasi 2 – 5 tahun, akan tetapi dapat juga bertahun-tahun.

Penularan dapat terjadi apabila M. Leprae yang solid keluar dari tubuh penderita dan masuk kedalam tubuh orang lain. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. Tempat masuk kuman kusta kedalam tubuh sampai saat ini diperkirakan melalui saluran pernapasan bagian atas.

DIAGNOSIS

Diagnosis penyakit kusta hanya dapat didasarkan pada penemuan tanda utama (cardinal sign), yaitu :

  1. Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa (anastesi) atau kurang rasa (hipestesi). Kelainan kulit dapat berbentuk bercak keputih-putihan (hipopigmentasi) atau kemerah-merahan (eritamatous).Gambar
  2. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. Gangguan fungsi saraf ini bisa berupa :
  • Gangguan fungsi sensoris: mati rasa
  • Gangguan fungsi motoris: kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise)Gambar
  • Gangguan fungsi otonom: kulit kering, retak, pembengkakan (edema) dan lain-lain.

Peradangan saraf (neuritis) kusta dapat dirasakan nyeri, namun kadang-kadang tidak (silent neuritis).

     3. BTA positif

Bahan pemeriksaan BTA  diambil dari kerokan kulit (skin smear) asal cuping telinga (rutin) dan bagian aktif suatu lesi kulit. Pemeriksaan kerokan kulit hanya dilakukan pada kasus yang meragukan.

Untuk mendiagnosis penyakit kusta, minimal harus ditemukan satu cardinal sign. Tanpa adanya cardinal sign, kita hanya boleh menyatakan sebagai tersangka (suspek) kusta.

Untuk mendiagnosis penyakit kusta, minimal harus ditemukan satu cardinal sign. Tanpa adanya cardinal sign, kita hanya boleh menyatakan sebagai tersangka (suspek) kusta.

ü  Tanda-tanda pada kulit

  • Kelainan kulit berupa bercak merah atau putih atau benjolan
  • Kulit mengkilap
  • Bercak yang tidak gatal
  • Adanya bagian-bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak ditumbuhi rambut
  • Lepuh tidak nyeri

ü  Tanda-tanda pada saraf

  • Rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka
  • Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka
  • Adanya cacat (deformitas)
  • Luka yang tidak sakit

KLASIFIKASI

Menurut WHO, penyakit kusta dibagi dalam 2 tipe, yaitu :

  1. Kusta tipe PB (Pausi Basiler/ sedikit kuman)
  2. Kusta tipe MB (multi Basiler/ banyak kuman)

 

 

Pedoman untuk menentukan klasifikasi/ tipe penyakit kusta menurut WHO adalah sebagai berikut :

 

Tanda Utama

PB

MB

Bercak yang mati rasa/ kurang rasa di kulit

Jumlah 1 s/d 5

Jumlah > 5

Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi

Hanya satu saraf

Lebih dari satu saraf

Sediaan apusan

BTA negatif

BTA positif

 

 

PENGOBATAN

Regimen MDT (Multi Drugs Treatment) yang dianjurkan oleh WHO adalah :

  1. Penderita Pausi Basiler (PB)

Dewasa

Pengobatan bulanan : hari pertama (dosis yang diminum di depan petugas) :

ü  2 kapsul rifampisin @ 300 mg

ü  1 tablet Dapsone (DDS 100 mg)

Pengobatan harian : hari ke 2 – 28 (dibawa pulang) :

ü  1 tablet Dapsone (DDS 100 mg)

 

1 blister untuk 1 bulan

Lama pengobatan: 6 blister diminum selama 6 – 9 bulan

 

  1. Penderita Multi Basiler (MB)

Dewasa :

Pengobatan bulanan pada hari pertama (dosis yang diminum di depan petugas) :

ü  2 kapsul Rifampisin @ 300 mg

ü  3 kapsul Lampren @ 100 mg

ü  1 tablet Dapsone (DDS 100mg)

Pengobatan hari ke 2 – 28

ü  1 tablet Lamprene 50 mg

ü  1 tablet Dapsone (DDS 100mg)

1 blister untuk 1 bulan

Lama pengobatan : 12 – blister diminum selama 12 – 18 bulan.

 

Dosis MDT Menurut Umur

 

Sebagai pedoman praktis untuk dosis MDT bagi penderita kusta diberikan bagan sebagai berikut :

 

Tipe PB

< 10 tahun

10    -14 tahun

  • 15 tahun

Keterangan

Rifampicin

Berdasarkan BB

450 mg/ bulan

600 mg/ bulan

Diminum didepan petugas

DDS

50 mg

100 mg

50 mg/ hari

100 mg/ hr

Minum di rumah

Tipe MB

 

 

 

 

Rifampicin

Berdasarkan BB

450 mg/ bulan

600 mg/ bulan

Minum didepan petugas

 

DDS

50 mg/ bulan

100 mg/ bulan

50 mg/ hari

100mg/ hari

Minum dirumah

Clofazimine (Lampren)

100 mg/ bulan

150 mg/ bulan

300 mg/ bulan

Minum didepan petugas

50 mg, 2 kali seminggu

50 mg/ hari

50 mg/ hari

Minum dirumah

 

Dosis MDT bagi anak di bawah 10 tahun :

–          Rifampicin             :  10 – 15 mg/ kgBB

–          DDS                      :  1 – 2 mg/ kg BB

–          Lampren                :  1 mg/ kgBB

 

EFEK SAMPING OBAT-OBAT MDT

Efek samping DDS :

–          Bila terjadi gejala alergi (kulit bintik-bintik merah, gatal, mengelupas atau sesak napas) terhadap obat ini, hentikan dulu pemberian DDS kemudian konsultasikan ke dokter untuk dipertimbangkan tindakan selanjutnya.

–          Bila H rendah, hentikan pemberian DDS dan perbaiki keadaan umum penderita.

–          Gangguan pada saluran cerna seperti : anoreksia, mual, muntah.

–          Gangguan pada saraf seperti neuropati perifer, sakit kepala, vertigo, penglihatan kabur, sulit tidur, psikosis.

 

Efek samping Lampren :

 

–          Warna kulit terutama pada infiltrate/ bercak berwarna ungu sampai kehitam-hitaman yang akan hilang sendiri setelah pengobatan selesai

–          Gangguan pencernaan berupa diare, nyeri pada lambung. Bila gejala ini menjadi berat, hentikan pemberian lampren.

 

Efek samping Rifampisin :

–          Dapat menimbulkan kerusakan pada hati dan ginjal. Dengan pemberian Rifampicin 600mg/ bulan tidak berbahaya bagi hati dan ginjal. Sebelum pemberian obat ini perlu dilakukan tes fungsi hati.

–          Perlu diberitahukan kepada penderita bahwa air seni akan berwarna merah bila minum obat.

 

HAL-HAL YANG PERLU DISAMPAIKAN PADA PENDERITA

Sebelum memulai MDT, tanyakan pada penderita apakah ada riwayat alergi terhadap obat-obat tertentu. Selain itu, penderita harus mendapatkan penjelasan mengenai hal-hal sebagai berikut :

–          Lama pengobatan

–          Cara minum obat

–          Kusta dapat disembuhkan bila minum obat teratur dan lengkap

–          Bahaya yang terjadi bila minum obat tidak teratur yaitu dapat menularkan kepada keluarga dan orang lain serta dapat terjadi kecacatan.

 

Referensi ;

–          Ditjen PPM dan PLP. Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta. Cetakan XV. Jakarta, 2002.

–          Prof. Dr. adhi Djuanda. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Ketiga. FKUI, 2000.

–          Pusat Latihan Kusta Nasional. Modul Pelatihan Kusta. Makassar, 2002.

Pos ini dipublikasikan di BACA SEMUA ISI dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke MENGENAL KISAH KLASIK PENYAKIT KUSTA (part one)

  1. sahroni berkata:

    pa, saya mau tanya. tetangga saya itu ada tanda putih mati rasa, kalo gak salah namanya kustalani, apakah itu bisa dibilang kusta ? makasih atas jawbannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s