MENURUNKAN ANGKA PREVALENSI PENYAKIT DIARE DENGAN STOP BAB SEMBARANGAN (BABS)

DSCF9106_副本Sampai saat ini, diperkirakan 47 % masyarakat Indonesia masih buang air besar sembarangan, ada yang berperilaku buang air besar ke sungai, kebon, sawah, kolam dan tempat-tempat terbuka lainnya. Perilaku tersebut jelas sangat merugikan kondisi kesehatan masyarakat, karena tinja dikenal sebagai media tempat hidupnya bakteri coli yang berpotensi menyebabkan terjadinya penyakit diare.
Berbagai alasan digunakan oleh masyarakat untuk buang air besar sembarangan, antara lain anggapan membangun jamban itu mahal, lebih enak BAB di sungai, tinja dapat untuk pakan ikan, dan lain-lain yang akhirnya dibungkus sebagai alasan karena kebiasaan sejak dulu, sejak anak-anak, sejak nenek moyang dan sampai saat ini tidak mengalami gangguan kesehatan.
Alasan dan kebiasaan tersebut harus diluruskan dan dirubah karena akibat kebiasaan yang tidak mendukung pola hidup bersih dan sehat jelas-jelas akan memperbesar masalah kesehatan. Dipihak lain, bila mana masyarakat berperilaku higienis, dengan membuang air besar ditempat yang benar, sesuai dengan kaidah kesehatan, hal tersebut akan dapat mencegah dan menurunkan kasus-kasus penyakit menular. Dalam kejadian diare misalnya, dengan meningkatkan akses masyarakat sanitasi dasar, dalam hal ini meningkatkan jamban keluarga, akan dapat menurunkan kejadian diare 32 %.
Perilaku Hidup Bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran semua anggota keluarga dan mayarakat, sehingga keluarga dan mayarakat itu dapat menolong dirinya sendiri dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat.
Kondisi sehat dapat dicapai dengan mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat dan menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga. Oleh karena itu kesehatan perlu dijaga , dipelihara dan ditingkatkan oleh setiap anggota rumah tangga serta diperjuangkan oleh semua pihak secara totalitas.
Dalam lingkup rumah tangga, untuk ber PHBS kegiatannya cukup banyak seperti tidak merokok di dalam rumah, member ASI, menimbang balita secara rutin, memberantas jentik nyamuk dan lain-lain. Khusus dalam program PAMSIMAS, sebagaimana tercakup dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Ada 4 pilar ber PHBS, yaitu :
1. Stop Buang Air Besar sembarangan (STOP BABS)
2. Cuci Tangan pakai Sabun (CTPS)
3. Pengamanan Air Minum Rumah tangga
4. Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga

Keadaan geografis wilayah kerja UPT Puskesmas Sungkai mayoritas berupa dataran rendah dan rawa dan pegunungan. Wilayah kerja Puskesmas Sungkai yang daerahnya berupa tanah rawa adalah desa Banua Hanyar, sebagian Cintapuri dan Garis Hanyar. Sedangkan daerah yang berupa dataran tinggi atau pegunungan adalah desa Rantau Bujur, Loktanah, Rampah dan Telaga Baru. Hampir semua wilayah kerja Puskesmas Sungkai dapat dicapai dengan menggunakan transportasi darat. Terkecuali pada musim hujan dimana jalanan menuju daerah pegunungan dan rawa tidak memungkinkan dilewati kendaraan roda empat.
Melirik kebiasaan masyarakat desa setempat yang sering buang air besar sembarangan di sungai dan hutan berdampak pada angka prevalensi diare di daerah ini cukup tinggi. Berdasarkan hasil laporan mingguan (W2) diare dan hasil Pemantauan Wilayah setempat Kejadian Luar Biasa (PWS KLB) UPT. Puskesmas sungkai tahun 2010, angka prevalensi penyakit diare sebanyak 720 orang. Pada tahun 2011, tepatnya bulan Februari di wilayah kerja UPT Puskesmas sungkai diadakan Program PAMSIMAS. Salah satu programnya adalah stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS). PAMSIMAS bekerja sama dengan masyarakat dan petugas Puskesmas sungkai untuk pembuatan jamban pada tiap-tiap rumah.
Selama berjalan kurang lebih 1 tahun, ada dua desa yang mendapatkan penghargaan dari Bupati Banjar karena mampu membuat desanya 100 % bebas dari kebiasaan BAB sembarangan. Desa yang berhasil itu adalah desa Berkat Mulya dan Sungkai Baru. Kedua desa tersebut menjadi pelopor desa stop buang air besar sembarangan. Setelah dianalisis dari laporan PWS KLB Puskesmas Sungkai tahun 2011, angka prevalensi penyakit diare menurun drastis yaitu 409 orang.

Perbandingan angka prevalensi Penyakit Diare tahun 2010 dengan tahun 2011

Sumber : Laporan EWARS, W2 Diare, PWS KLB UPT Puskesmas sungkai

Setelah membandingkan angka prevalensi penyakit diare tahun 2010 dengan tahun 2011 terjadi penurunan yang signifikan oleh karena ada dua desa yang sudah berhasil melaksanakan program Stop BABS. sehingga dapat kita simpulkan dengan Program Stop BABS dapat menurunkan angka prevalensi penyakit diare di wilayah kerja UPT Puskesmas sungkai.

Referensi :
1. Laporan Mingguan dan bulanan EWARS UPT Puskesmas Sungkai
2. Laporan Bulanan P2 Diare UPT Puskesmas Sungkai

Pos ini dipublikasikan di BACA SEMUA ISI dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s