Ciri-ciri Pernikahan Tidak Sehat

BANJARMASINPOST.CO.ID – Dalam sebuah studi pada tahun 2005, ditemukan bahwa dalam sebuah pernikahan yang tak memuaskan kedua belah pihak, bisa meningkatkan level stres dan memperburuk kesehatan salah satu atau kedua pihak, bahkan bisa menyebabkan penyakit jantung. Meski begitu, tidak menjadikan sebuah kepastian bahwa pernikahan yang buruk akan membuat seseorang sakit, atau pernikahan yang bahagia akan bikin seseorang sehat. Tetapi satu hal yang pasti, pernikahan yang hubungan suami istrinya buruk, tidak akan berdampak baik.

keluarga M.Fakhrurrozie,SKM,MAP

Menurut Sharon Rivkin, MA, MFT, terapis pernikahan dan keluarga dari California, dalam pernikahan yang tidak bahagia, jangan kesampingkan beban tekanan yang terasa dan dibawa ke mana-mana.
Menurutnya, jika hubungan pernikahan sehari-hari berjalan masam, tanpa banyak bicara, stres, banyak pertengkaran, atau justru saling diam, maka Anda membahayakan kesehatan Anda sendiri.
Contoh, jika salah seorang pasangan merasa kekurangan empati atau salah seorang pasangan mengasari yang lainnya, hubungan itu berisiko tidak akan lanjut. Namun, Rivkin mengatakan, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki jika keduanya mau berusaha.

Berikut adalah 5 tipe kebiasaan dalam pernikahan yang tidak sehat:

1. Dipendam
Setiap pasangan pasti akan mengalami tantangan dan hambatan. Namun, jika tantangan tersebut tidak dibicarakan dan dihadapi bersama, ketegangan tersebut hanya akan menjadi jarak di antara pasangan dan membuat jarak di antara keduanya.

Heitler, pengarang The Power of Two: Secrets of a Strong & Loving Marriage mengatakan, mereka yang tumbuh dalam keluarga dengan komunikasi bagus dan terbuka membicarakan permasalahannya akan dengan alami membuka diri dan kooperatif.
Namun, sayangnya, menurut Heitler, tak semua orang belajar tentang keterbukaan sejak kecil. Kebanyakan orang tidak terbiasa membicarakan hal-hal sensitif dan cenderung memendamnya.

Untuk mengatasinya, disarankan untuk memperbaiki keahlian berbicara. Caranya, bisa dengan memperbanyak pengetahuan mengenai cara berkomunikasi, mengikuti konseling pernikahan, mencoba mencari pengetahuan seputar pernikahan.

2. Tak ada yang mau jadi pendengar

“Manusia diberikan 2 telinga dan 1 mulut. Fungsinya, untuk lebih banyak mendengar,” begitu nasihat para orangtua.

Sudah jelas, semua orang pasti ingin didengarkan dan dimengerti. Percaya atau tidak, meski kita berada dekat dengan pasangan yang sedang berbicara kepada kita, tak selamanya kita mendengarkan sepenuh hati.

Kadang pikiran kita melayang ke mana dan kita tak memahami si dia sepenuhnya, apalagi saat bahasa tubuh kita tidak memberi sikap sedang mendengarkan.

Menurut Rivkin, ketika seseorang tak merasa didengarkan, ia akan sulit untuk membagi rahasia terdalamnya kepada siapa pun, karena mereka tak ingin merasa rentan. Namun, ketika seseorang merasa didengarkan, percakapan pun akan makin mendalam.

Jika Anda dan si dia masih mau mencoba mengatasi masalah ini, cobalah untuk sama-sama setuju dengan pasangan agar bergantian mendengarkan satu sama lain selama 3-5 menit tanpa menyelak. Begitu Anda dengan sungguh-sungguh mendengarkan, Anda pun akan lebih bisa melihat dari sudut pandang pasangan.

3. Saling menyalahkan

Jika hubungan pernikahan yang tak bahagia memiliki argumen yang tak terselesaikan, maka penyalurannya cenderung keluar dalam bentuk saling menyalahkan ketimbang masing-masing mengambil tanggung jawab atas tindakan yang mereka lakukan, jelas Rivkin. Seperti kita ketahui, menyalahkan orang lain saja tak akan menyelesaikan masalah.

Cobalah untuk menelan sedikit rasa gengsi, pelankan nada suara, bicara dengan baik-baik, jangan menyalahkan, dan fokus kepada solusi.
Cobalah melihat isu yang sebenarnya sedang dipertikaikan. Misal, pusat permasalahan sebenarnya mungkin saja merupakan hasil dari perasaan tidak dicintai, tidak didengarkan, atau tidak diapresiasi.

Jika Anda dan dia merasa mengalami masalah dalam mencari pokok permasalahan, tanyakan pada diri Anda, apakah pertengkaran yang sedang terjadi mengingatkan Anda akan pertengkaran sebelumnya? Begitu menemukan intinya, akan lebih mudah bagi Anda untuk memperbaiki masalah dalam hubungan Anda. Begitu ditemukan pola permasalahannya, lebih mudah untuk mengubah perilaku Anda.

4. Menyia-nyiakan pasangan

Menurut Rivkin, salah satu permasalahan tersering yang dialami oleh pasangan adalah menyia-nyiakan hadirnya pasangan, yang kemudian berkembang menjadi kekurangsensitivan akan kebutuhan si pasangan.

Bisa jadi, Anda tak lagi menyapa si dia begitu ia tiba di rumah sehabis seharian bekerja. Mungkin juga ia tak lagi mengapresiasi usaha Anda yang bersusah payah memasakkannya makanan kesukaan dia.

Perlu diingat selalu, manusia butuh apresiasi dan afeksi. Tanpa kedua hal itu, kita akan merasa kesepian, tak dihargai, dan diabaikan.
Untuk mencoba memperbaikinya, cobalah berikan apresiasi kepada pasangan dengan membelikannya sebuah hadiah, usapan di punggung, ucapan terima kasih sungguh-sungguh, serta berinvestasi dengan menyiapkan waktu khusus, seperti malam kencan, dan lainnya.

Meski Anda sedang merasa kesal atau tak ingin, tetapi begitu ia melakukan sesuatu hal yang baik, tetap lakukan dan tunjukkan apresiasi Anda kepadanya. Tumbuhkan keintiman yang pernah merekah di awal masa pacaran dengan melihat hal-hal yang paling Anda kagumi serta sukai dari si dia.

Jika memungkinkan, ingatkan dia akan kesukaan Anda itu saat suasana sedang tenang, lalu ungkapkan apa-apa saja tentang dirinya dan perilakunya yang kurang berkenan pada Anda, dan Anda ingin membuat hubungan ini berhasil, tanyakan padanya apa yang mungkin dilakukan untuk memperbaikinya.

5. Putus asa terlalu cepat

Jangan ragu-ragu untuk meminta bantuan, terutama jika Anda sudah berusaha tetapi tetap saja gagal memperbaiki pernikahan Anda. Jangan mengharap si dia akan dengan serta merta akan meleleh begitu Anda utarakan maksud untuk memperbaiki hubungan.
Berikan waktu setidaknya 3 bulan agar terapis Anda bisa membantu pernikahan Anda atau menggunakan nasihat dari buku untuk membantu pernikahan Anda. Perubahan mungkin akan terjadi secara perlahan, tetapi jangan takut untuk menjalani langkah-langkah kecil. Satu perubahan kecil saja bisa jadi titik tolak yang baik untuk mengubah pola yang sudah berantakan menjadi lebih baik. kompas.com

Pos ini dipublikasikan di Serba Serbi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s