Apa dan Bagaimana Mengatasi Tetanus?

Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yan berbahaya karena mempengaruhi sistim urat syaraf dan otot. Bagaimana gejala dan apa penyebabnya? Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang (dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.

Neonatal tetanus umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir. Neonatal tetanus menyerang bayi yang baru lahir karena dilahirkan di tempat yang tidak bersih dan steril, terutama jika tali pusar terinfeksi. Neonatal tetanus dapat menyebabkan kematian pada bayi dan banyak terjadi di negara berkembang. Sedangkan di negara-negara maju, dimana kebersihan dan teknik melahirkan yang sudah maju tingkat kematian akibat infeksi tetanus dapat ditekan. Selain itu antibodi dari ibu kepada jabang bayinya yang berada di dalam kandungan juga dapat mencegah infeksi tersebut.

Apa yang menyebabkan infeksi tetanus? Infeksi tetanus disebabkan oleh bakteri yang disebut dengan Clostridium Tetani yang memproduksi toksin yang disebut dengan tetanospasmin. Tetanospasmin menempel pada urat syaraf di sekitar area luka dan dibawa ke sistem syaraf otak serta saraf tulang belakang, sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat syaraf. Terutama pada syaraf yang mengirim pesan ke otot. Infeksi tetanus terjadi karena luka. Entah karena terpotong, terbakar, aborsi , narkoba (misalnya memakai silet untuk memasukkan obat ke dalam kulit) maupun frosbite. Walaupun luka kecil bukan berarti bakteri tetanus tidak dapat hidup di sana. Sering kali orang lalai, padahal luka sekecil apapun dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteria tetanus.

Periode inkubasi tetanus terjadi dalam waktu 3-14 hari dengan gejala yang mulai timbul di hari ketujuh. Dalam neonatal tetanus gejala mulai pada dua minggu pertama kehidupan seorang bayi. Walaupun tetanus merupakan penyakit berbahaya, jika cepat didiagnosa dan mendapat perawatan yang benar maka penderita dapat disembuhkan. Penyembuhan umumnya terjadi selama 4-6 minggu. Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sebagai bagian dari imunisasi DPT. Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun telah dewasa. Dianjurkan setiap interval lima tahun: 25, 30, 35 dan seterusnya. Untuk wanita hamil sebaiknya diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya.

Vaksin Tetanus (DPT)
Vaksin ini akan melindungi tubuh terhadap difteri, tetanus dan pertussis. DPT (DTP) dan DTaP adalah vaksin yang sama, hanya bentuknya saja berbeda. Vaksin yang diberikan lewat suntikan, ini terbukti mampu menghilangkan kemungkinan terkena difteri dan tetanus pada masa kanak-kanak, serta mengurangi secara nyata kasus pertussis. Di beberapa negara maju, saat mendaftar sekolah calon murid harus menunjukkan bukti telah mendapatkan vaksin ini secara lengkap.

Vaksin diberikan sebagai satu seri yang terdiri dari lima kali suntik, yaitu pada usia dua bulan, empat bulan, enam bulan, 15-18 bulan dan terakhir saat sebelum masuk sekolah (empat sampai enam tahun). Dianjurkan untuk mendapatkan vaksin Td (penguat terhadap difteri dan tetanus) pada usia 11-12 tahun atau paling lambat lima tahun setelah imunisasi DTP terakhir. Setelah itu, direkomendasikan untuk mendapatkan Td setiap sepuluh tahun.

Tapi, pemberian vaksin harus ditunda, jika:
· anak sakit lebih dari sekadar panas badan ringan,
· anak memiliki kelainan syaraf atau tidak tidak tumbuh secara normal. Dianjurkan untuk tidak memberikan komponen pertussis dari vaksin, cukup DT (difteri & tetanus) saja.
· setelah mendapatkan vaksin DTP (DTaP) timbul gejala seperti dibawah konsultasikan dengan dokter anak sebelum mendapatkan vaksin lainnya :
– kejang-kejang dalam 3-7 hari setelah imunisasi
– kejang-kejang yang makin memburuk –jika mengalami itu sebelumnya
– reaksi alergi
– kesulitan makan atau gangguan pada mulut, tenggorokan atau muka
– panas badan lebih dari 40 derajat celcius (105 derajat fahrenheit)
– pingsan dalam dua hari pertama setelah imunisasi
– terus menangis lebih dari tiga jam di dua hari pertama setelah imunisasi

Anak mungkin mengalami panas badan ringan dan atau kemerah-merahan di sekitar bekas suntikan. Untuk mencegah panas badan kadangkala dokter anak memberikan resep obat sebelum imunisasi. Seringkali pemberian vaksin, ini menimbulkan panas badan ringan atau panas di sekitar bekas suntikan yang diakibatkan oleh komponen pertussis dalam vaksin. (www.tempo.co.id/hg/narasi/2004/04/05/nrs,20040405-01,id.html)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Mengenal Kesehatan Masyarakat dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s