Wawww….41 % pengemudi tidur saat mengemudi

ngantuk...istirahatlah dulu

erdasarkan studi American Automobile Association (AAA) Foundation for Traffic Safety, 41 persen pengemudi mengaku pernah tertidur saat mengemudi. Hal itu berarti, dua dari lima orang pernah tertidur saat mengemudi mobil.

Data yang lebih mengerikan, pengemudi berusia 16-24 tahun hampir lebih dari dua kali mengalami kecelakaan karena mengantuk dibandingkan pengemudi berusia 40-59 tahun.

Menurut Presiden dan CEO AAA Foundation, Peter Kissinger, mengemudi saat lelah sama dengan mengemudi saat mabuk. “Sama seperti alkohol atau obat-obatan. Mengantuk memperlambat reaksi dan mengacaukan penilaian,” jelasnya. Ditambahkan, “Mengemudi saat mengantuk sama berbahayanya dengan menyetir di bawah pengaruh alkohol.”

Kebanyakan pengemudi menganggap, mengemudi saat lelah tidak sama dengan mabuk. Apalagi, mengemudi saat lelah dianggap legal. “Banyak dari kita cenderung meremehkan dampak negatif karena kelelahan dan kurang tidur. Sebaliknya malah melebihkan kemampuan mengatasi kelelahan saat mengemudi,” ujar Kathleen Marvaso, Wakil Presiden Hubungan Masyarakat AAA, dalam siaran pers tertulisnya.

“Data ini menunjukkan betapa pentingnya untuk mengedukasi pengemudi dengan cara yang sederhana dan efektif. Tujuannya, mencegah terjadinya kecelakaan. Sayangnya, terlalu banyak pengemudi memiliki keyakinan, ‘Saya lelah, tapi saya bisa!’, sering kali membahayakan diri mereka dan orang lain,” tambahnya.

The New York Times menerangkan bahwa kecelakaan karena tertidur lebih berbahaya. Seorang peneliti mengenai tidur, Thomas J Balkin, juga pimpinan National Sleep Foundation, mengatakan, kecelakaan karena tertidur cenderung berakibat fatal.

“Seseorang akan mengalami kecelakaan parah karena mereka tak melakukan apa pun. Misalnya, mengantisipasi tabrakan yang akan terjadi, seperti menginjak rem atau memutar setir,” jelasnya.

Sementara menurut Bloomberg, untuk menghindari kelelahan, pengemudi disarankan paling tidak harus tidur enam jam sebelum melakukan perjalanan jauh. Juga merencanakan istirahat setiap dua jam dan melakukan perjalanan di waktu normal. Berpindah jalur dan mengekor kendaraan di depan merupakan tanda-tanda kelelahan.

Solusi lain adalah kafein. The Los Angeles Times menyimpulkan saran AAA, “Jika seorang pengemudi meminum kopi atau minuman lain yang mengandung kafein agar tubuhnya tetap terjaga, ia harus meminumnya sekitar 30 menit sebelum mulai berkendara. Dengan demikian, bisa ada waktu kafein memasuki aliran darah dan menghasilkan efek yang diinginkan.”

Mengemudi mobil sendiri memang memberi kebebasan. Namun bila lelah, berarti menempatkan diri sendiri, penumpang, dan pemakai jalan lain dalam risiko tinggi. Karena itu, jika lelah, jangan mengemudi! Ini lebih penting karena akan menyelamatkan kehidupan Anda dan orang lain.

Sumber : kompas.com

Iklan
Pos ini dipublikasikan di BACA SEMUA ISI, SERBA SERBI PUSKESMAS SUNGKAI dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s