TANDA HATI MATI

Dalam keseharian kita sebagai seorang Hamba, sadar dan tidak sadar sering melakukan kesalahan dan perbuatan dosa. Perbuatan dosa yang berkepanjangan merupakan salah satu pertanda kekhilafan manuasia yang sering menganggab remeh suatu perbuatan. Sudah jelas Allah mengatur hukum Agama di muka bumi ini dengan mengutus banyak Nabi dan Rasul, namun masih ada saja manusia yang kurang beriman dan mengabaikan perintah tersebut. Manusia seperti ini dapat diartikan sebagai manusia yang tidak pandai berterimakasih atas segala nikmat yang diterimanya. Nikmat hidup, nikmat kesempurnaan ragawi, nikmat kesehatan dan nikmat Islam yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Manusia seperti apakah mereka ? “ Sebagian daripada tanda matinya hati, yaitu jika tidak merasa sedih (susah) karena tertinggalnya suatu amal perbuatan kebaikan, kewajiban, juga tidak menyesal jika terjadi berbuat suatu pelanggaran dosa “ Dalam suatu hadist Rasulullah SAW bersabda : ” Siapa merasa senang oleh amal kebaikannya, dan merasa sedih/ menyesal atas perbuatan dosanya, maka ia seorang mu’min (beriman) ”
Suatu riwayat mengabarkan ketika Abdullah bin Mas’ud ra berada dalam majelis Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seseorang turun dari kendaraannya dan mendekat kepada Nabi SAW dan berkata ,” Ya Rasulullah, saya telah melelahkan kendaraanku selama 9 hari, maka saya jalankan terus menerus selama 6 hari, tidak tidur diwaktu malam dan puasa pada siang hari, hingga lelah benar kendaraanku ini, keperluannya hanya untuk menanyakan kepadamu dua masalah yang telah merisaukan hatiku hingga tidak dapat tidur. Lalu ditanya oleh Nabi SAW : Siapakah engkau ? Jawabnya : Zaidul Khoil. Berkata Nabi : Engkau Zaidul Khoir, tanyakanlah kemungkinan sesuatu yang sukar itu aku sudah pernah ditanyainya. Berkata Zaid : Saya akan bertanya kepadamu tandanya orang yang disukai oleh Allah dan yang tidak disukai ( yang dimurkai) ?. Jawab Nabi SAW : Untung, untung, bagaimanakah keadaanmu kini hai Zaid. Jawab Zaid : Saya kini suka kepada amal kebaikan dan orang-orang yang melakukan amal kebaikan, bahkan sukan akan tersebarnya amal kebaikan itu, dan bila aku ketinggalan merasa menyesal dan rindu kepada kebaikan itu, dan bila aku berbuat amal sedikit atau banyak, tetap saya yakin akan pahalanya. Jawab Nabi SAW : Ya itu, yaitulah dia, andaikan Allah tidak suka kepadamu, tentu engkau disiapkan untuk melakukan yang lain dari itu, dan tidak akan peduli di jurang mana engkau akan binasa. Berkata Zaid : Cukup-cukup, lalu ia berangkat kembali di atas kendaraannya.
“ Jangan sampai terasa bagimu kebesaran sesuatu dosa itu, hingga dapat merintangi engkau dari husnudh-dhan ( baik sangka) terhadap Allah SWT, sebab siapa yang benar-benar mengenal Allah SWT, maka akan menganggab kecil dosanya itu di samping keluasan kemurahan Allah ”
Merasa besarnya suatu dosa itu baik jika menimbulkan rasa ingin bertobat dan niat tidak akan mengulanginya lagi untuk selamanya. Tetapi bila merasa besarnya dosa menyebabkan putus dari rahmat Allah, merasa seolah-olah rahmat dan maaf Allah tidak akan dapat memaafkan padanya, maka perasaan demikian lebih bahaya baginya daripada dosa yang telah dilakukannya, sebab putus harapan dari rahmat Allah itu dosa besar dan itu perasaan orang kafir semata-mata.
Abdullah bin mas’ud berkata :”seorang mu’min melihat dosanya bagaikan bukit yang akan merubuhinya, sedang orang munafik melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap di ujung hidungnya,maka diusir dengan tangannya. Nabi SAW bersabda ,” Andaikan perbuatan dosa itu tidak lebih baik bagi seorang mu’min daripada ujub ( merasa sombong karena amal kebaikannya ), maka Allah tidak akan membiarkan seorang mu’min berbuat dosa untuk selamanya “. Ujub akan menjauhkan seorang hamba dari Allah, sedang dosa itu menarik hamba mendekat kepada Allah. Ujub membuat hamba merasa besar diri, sedangkan dosa merasa kecil dan rendah diri di sisi Allah. “ Tidak ada dosa kecil jika Allah mengahadapi engkau dengan keadilannya, dan tidak berarti dosa besar jika Allah mengahadapimu dengan kurnia-Nya “
Nabi SAW bersabda ,” Tidak ada artinya dosa besar jika disertai dengan istighfar ( minta Ampun ), dan tidak dapat dianggab dosa kecil jika dikerjakan terus menerus “. Sebagai penutup, ada sepenggal doa yang kiranya dapat kita jadikan tauladan untuk mengatasi matinya hati kita, yaitu doa dari Yahya bin Mu’aadz ,” Tuhannku, jika Engkau kasih kepadaku, Engkau ampunkan semua dosaku, tetapi bila Engkau murka kepadaku tidak Engkau terima amal kebaikannku “. Semoga kita bersama ( terutama penulis pribadi) dapat mengambil hikmah dari tulisan ini dan berupaya untuk menjaga hati dari ujub dan riya.(rozie dalam lubukhatiku’s.worpress.com )

Pos ini dipublikasikan di BACA SEMUA ISI dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s