KEMARAU….AWAS DIARE MENGANCAM

Muh.Fakhrurrozie,AMK,SKM

Dalam beberapa minggu ini, dibeberapa wilayah di Kalimantan Selatan, terutama di Kabupaten Banjar , musim kering telah mulai terasa. Di beberapa daerah  air untuk kebutuhan sehari- hari sudah mulai sulit ditemukan. Air seakan-akan menghilang dari sumbernya yang pada musim penghujan             “ enjoy “  aja pada tempatnya ( sumur gali penduduk atau  sungai ). Saat ini air menjadi bahan kebutuhan hidup yang sangat mahal harganya, bahkan lebih mahal dari BBM.

Dalam keadaan kesulitan air  ini, kita harus berhati- hati dan sangat waspada pada beberapa penyakit yang umumnya timbul akibat kekurangan air, yaitu  DIARE. Minum air sembarangan, jajanan di luar rumah yang kurang higienes hanya merupakan beberapa sebab terjadinya diare pada kelurga kita. Janganlah kita menganggap enteng terhadap penyakit ini karena tanpa pengelolaan yang benar, penyakit diare  sangat berbahaya bahka dapat menyebabkan kematian. Untuk itu, perlu kiranya kita mengetahui  lebih jauh tentang apa dan bagaimana  penyakit diare dan cara penanggulanganya.

A. Kejadian Diare di Masayarakat

Di Indonesia penyakit diare masih  merupakan salah satu masalah kesehatan utama masyarakat. Keadaan ini terjadi karena angka kesakitan atau kematian yang ditimbulkannya cukup tinggi. Berdasarkan kajian dan analisis dari beberapa survei yang dilakukan, angka kesakitan diare pada semua golongan umur pada saat ini adalah 280/1000 penduduk. Pada golongan balita episode diare adalah 1,5 kali pertahun ( Pedoman Diare, 2000)

Angka kematian diare yang didapat dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT 1995) bila diproyeksikan pada penduduk Indonesia, setiap tahun terdapat 112.000 kematian pada semua golongan umur (54/100.000 penduduk). Pada balita terjadi 55.000 kematian (2,5 per 1000 penduduk). Sebagian besar (96%) kematian karena diare terjadi pada balita. Sebesar 15,5 % kematian pada bayi dan 26,4 % kematian pada anak balita disebabkan karena penyakit diare murni. ( Depkes, 1992 )

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Dua faktor yang dominan dari lingkungan adalah sarana air bersih dan  pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan prilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman  diare serta berakumulasi dengan prilaku manusia yang tidak sehat pula yaitu melalui makanan dan minuman , maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare.

Penyakit diare merupakan penyakit yang perlu mendapatkan petanganan serius karena  dapat menimbulkan kematian pada penderitanya. Hal ini dikarenakan penderita diare banyak kehilangan cairan dan garam yang dikeluarkan bersama tinja yang disebut dengan dehidrasi. Semakin sering penderita mengalami diare semakin banyak ia kehilangan  air dan garam. Dehidrasi banyak pula terjadi akibat banyak muntah yang sering timbul bersama diare.

Beberapa upaya  pencegahan yang dapat dilakuan adalah meningkatkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi, memperbaiki pemberian makanan pendamping ASI, menggunakan air bersih yang cukup, mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan perseorangan, menjaga lingkungan tempat tinggal tetap bersih, menggunakan jamban yang benar, membuang tinja bayi dan anak-anak yang tepat dan imunisasi campak    ( Pedoman Diare, 2000 )

B.     Pengertian Penyakit Diare

1. Definisi

Secara operasional, didefinisikan bahwa diare adalah buang air besar lembek/ cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari).  ( Depkes RI,2000; 3)

2. Jenis Diare

a. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung  kurang dari 14 hari  ( umumnya kurang dari 7 hari). Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare

b. Disentri, yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, kemungkinan terjadinya komplikasi pada mukosa.

3. Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme.

4. Diare dengan masalah lain

Anak yang menderita diare ( akut dan persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.

C. Penyebab Penyakit Diare

Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor penyebab.

1. Faktor Infeksi

a. Infeksi Internal ialah infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak, meliputi infeksi internal sebagai berikut

b.  Infeksi Bakteri : Vibrio E.Coli, salmonella, shigella, campylobacter,  yersinia, aeromonas dan sebagainya.

c. Infeksi Virus : Enterovirus ( Virus echo, coxsackle, poliomyelitis), adeno virus, Rot a virus, astronovirus dan lain- lain.

d.  Infeksi Parasit : cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongyloides ); protozoa ( entamoeba histolitica, giarda lamblia, balantidium coli); jamur    ( candida aibicans )

e.Infeksi parenteral adalah infeksi luar alat pencernaan makanan seperti Otitis Media akut, tonsilits / tonsilofaringitis, bronkopneumonia, encephalitis. Keadaan ini terutama pada bayi dan anak  berumu dibawah  2 tahun.

2.  Faktor Malabsorpsi

  1. Malabsorpsi Karbohidrat
  2. Malabsorpsi  Lemak
  3. Malabsorpsi  Protein

3.   Faktor Makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan

4.  Faktor Psikologis : rasa takut dan cemas  jarang tetapui dapat terjadi pada anak yang lebih besar ) ( Perawatan Anak Sakit, 1997 dan Pedoman Diare,2000)

D.    Cara Penularan

Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan/minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita.

Beberapa prilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare, antara lain :

  1. Tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pertama kehidupan. Pada bayi yang tidak diberi ASI risiko untuk menderita diare lebih besar daripada pada bayi yang diberi ASI, dan kemungkinan menderita dehidrasi berat lebih besar.
  2. Menggunakan botol susu, penggunaaan botol ini memudahkan pencemaran oleh kuman kerena botol susah dibersihkan.
  3. Menyimpan makanan masak pada suhu kamar. Bila makanan disimpan beberapa jam pada suhu kamar, makanan akan tercemar dan kuman akan berkembang biak.
  4. Menggunakan air minum yang tercemar. Air mungkin sudah tercemar dari sumbernya atau pada saat disimpan dirumah. Pencemaran di rumah dapat terjadi kalau tempat penyimpanan tidak ditutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan.
  5. Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan dan menyuapi anak.
  6. Tidak membuang tinja (termasuk tinja bayi) dengan benar. Sering beranggapan bahwa tinja bayi tidaklah berbahaya, padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Selain itu tinja binatang dapat pula menyebabkan infeksi pada manusia. E. Gejala- Gejala Diare

Untuk mengetahui gejala- gejala diare, selain adanya peningkatan frekuensi buang air besar dengan konsistensi tinja lembek atau cair, gejala yang ditimbulkan sesuai dengan jenis kuman penyebabnya.

1. V.Cholera

Masa tunas beberapa jam sampai 5 hari, gejala: mencret mendadak, kadang-kadang muntah,asidosis dan shock

2. V.Parahaemoliticus

Penderita diare sakit perut, mual , muntah, demam, sakit kepala kadang-kadang seperti disentri.

3. Stap.Aureus

Masa tunas 2-6 jam, penderita mual,muntah,sakit perut,mencret,suhu badan dingin

  1. 4. Salmonella spp

Masa tunas 12-24 jam, penderita  mencret, demam, sakit perut

5. Shigella spp

Masa tunas 2-3 hari, penderita mencret sakit perut tenesmus, tinja berlendir dan berdarah

6. Streptococcus Fekalis

Masa tunas 5-20 jam, penderita mual, muntah ,mencret.

Penderita diare yang tidak mendapatkan penanganan secepatnya akan menyebabkan kehilangan banyak cairan dan garam dalam tubuhnya. Keadaan ini disebut dehidrasi. Bila  dehidrasi tidak mendapatkan penanganan serius, penderita dapat mengalami kematian karena kehilangan banyak cairan.

Beberapa tingkatan dihidrasi pada diare adalah :

  1. Diare tanpa dehidrasi

Karena mencretnya belum ada tanda-tanda dan gejala-gejala lainnya yang tampak

  1. Diare dengan dehidrasi ringan

Terdapat salah satu tanda-tanda  nafsu makan berkurang, kelincahan berkurang, muntah ataupun badan panas

  1. Diare dengan  dehidrasi sedang

Bla terdapat tanda-tanda muntah lebih dari 2 kali, mata cekung, ubun-ubun    ( pada bayi) cekung, kekenyalan kulit menurun dan badan panas.

  1. Diare dengan dehidrasi berat

Secara umum menunjukkan gejala/ tanda :

  1. Tingkat kesadaran menurun
  2. Muntah sangat kering
  3. Kencing sedikit dan tidak sama sekali
  4. Mata cekung dan kering
  5. Air mata tidak ada
  6. Mulut kering
  7. Nafas sangat cepat dan dalam
  8. Kekenyalan kulit menurun
  9. Ubun-ubun sangat cekung (bayi)
  10. Nadi sangat cepat, dangkal kadang-kadang tidak teraba. F. Penanganan Diare

Prinsip penatalaksanaan penderita di sarana kesehatan ( RS) adalah :

  1. Rehidrasi oral untuk penderita diare tanpa dehidrasi dan penderita dengan dehidrasi ringan/ sedang. Cairan intrra vena hanya diberikan pada penderita dengan dehidrasi berat
  2. Meneruskan pemberiaan makanan, termasuk ASI selama dan sesudah diare
  3. Memberikan pengobatan antibiotik untuk penderita cholera dan diare berdarah. Anti diare tidak dibenarkan pemberiannya pada penderita diare, terutama pada balita. ( Depkes RI,1994)

Selain itu, penanganan penderita juga harus mempertimbangkan resiko yang dapat terjadi pada penderita. Resiko- resiko yang dapat terjadi adalah :

  1. Resiko terjadi gangguan sirkulasi darah

Diare menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit, mengakibatkan penderita menderita dehidrasi dan jika tidak segera diatasi menyebabkan  terjadinya dehidrasi asidosis. Bila masih berlanjut akan terjadi asidosis metabolik, gangguan sirkulasi darah dan penderita jatuh dalam keadaan renjatan shock. Untuk mengatasinya :

a. Pada dehidrasi ringan

Beri minum sebanyak-banyaknya kira-kira 1 gelas setiap kali setelah penderita mencret. Cairan harus mengandung elektrolit, seperti oralit. Bila tidak ada, berikan larutan gula garam  yaitu satu gelas air matang yang agak dingin dilarutkan dalam 1 sendok teh  gula pasir dan satu  jumput garam  dapur. Untuk bayi umur  6  bulan, oralit dilarutkan 2 kali lebih encer. Bila pemberian cairan peroral tidak dapat dilakukan, pasang infus dengan cairan Ringer Laktat (RL). Penting diperhatikan adalah apakah tetesan berjalan lancar terutama pada jam- jam pertama karena diperlukan untuk segera mengatasi masalah.

b.Pada dehidrasi berat, 4 jam pertama tetesan lebih cepat, selanjutnya   secara bertahap sambil melihat kecepatan pemberian cairan.

  1. Resiko kekurangan nutrisi

Penderita yang menderita diare umumnya juga mengalami penurunan nafsu makan sehingga masukan nutrisinya berkurang. Untuk mencegahnya serta membantu meningkatkan tekanan darah setelah dehidrasi teratasi, makanlah makanan yang mengandung cukup kalori, protein,mineral dan vitamin.

3.  Resiko terjadi komplikasi

Komplikasi dapat juga terjadi sebagai tindakan pengobatan,seperti:

  1. Kelebihan cairan, penanganannya adalah setiap penderita yang mendapat cairan infus, tetesannya harus selalu dikontrol dengan benar.
  2. Komplikasi pada kulit akibat seringnya berak- berak, terutama pada bayi. Cegah dengan melakukan pembersihan mempergunakan kapas ( kapas disiram air panas dahulu kemudian diperas/ kapas cebok) yang  dibasahi dengan minyak sayur / kelapa tetapi jangan dibedak lagi akan lengket
  3. Kejang- kejang pada penderita diare yang bila bukan karena kebanyakan cairan dapat karena hipoglikemia oleh karena itu harus dperiksa gula darahnya.
  4. Komplikasi malnutrisi protein. Cara penanganannya yaitu penderita diare harus diobati seseuai dengan penyebabnya agar dapat sembuh benar.(Perawatan Anak Sakit,1992)

G.    Higiene  Sanitasi  dan Penyakit Diare

Pengertian higiene (hygiene) menurut  kamus kedokteran ( A.Ramali,1997) adalah ilmu kesehatan atau kesehatan masyarakat, yaitu cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan masyarakat secara umum. Dengan perkataan lain, higiene  berarti ilmu kedokteran  pencegahan. Personel higiene dapat berarti  sebagai upaya kedokteran/ kesehatan  pencegahan perseorangan. Istilah sanitasi lebih  banyak dihubungkan dengan  masalah kesehatan  lingkungan.

Penyakit diare, umumnya terjadi infeksi melalui saluran pencernaan serta sangat dipengaruhi oleh sanitasi lingkungan, kuantitas dan kualitas air bersih, sanitasi makanan, personel hygiene dan faktor lainnya. ( Depkes RI,1994)

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Penyebaran penyakit diare erat sekali hubungannya dengan penyediaan air bersih di tingkat rumah tangga dan cara pembuangan kotoran (tinja) yang  tidak baik. Kedua faktor ini  akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula yaitu melauii makanandan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare.

Kuman penyebab penyakit diare, keluar  dari tubuh penderita bersama tinja atau  muntahan  dan menular  dengan perantaraan makanan dan minuman yang telah terkontaminasi oleh bibit penyakitnya. Pengotoran ( kontaminasi) ini dapat terjadi karena :

  1. Makanan/ minuman dimasak kurang matang atau sengaja dimakan mentah misalnya sayur
  2. 2. Makanan/ alat-alat makan dihinggapi lalat yang memindahkan bibit penyakitnya (vector)
  3. Tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.
  4. Makanan/ alat makan disediakan oleh orang yang mengandung bibit penyakitnya terutama carrier.

Mengingat bahwa penyakit diare penularannya hanya melalui makanan dan minuman, sebenarnya penyakit ini akan hilang dengan sendirinya dengan perbaikan hygiene perorangan dan sanitasi lingkungan, seperti halnya terjadi di negara- negara yang sudah maju. Beberapa upaya yang  dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan terjadinya penyakit diare pada orang dewasa, adalah :

1.  Personel Higiene

  1. Mencuci tangan

Kebiasaan  yang berhubungan dengan kebersihan perseorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama setelah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyipakan makanan, sebelum menyuapi makanan anak, mempunyai dampak dalam kejadian diare

b.  Menggunakan jamban setiap kali buang air besar

Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang berat dalam penurunan resiko terhadap penyakit diare. Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat dan keluarga harus membuang air besar di jamban.

  1. Membuang tinja bayi yang benar

Banyak orang beranggapan bahwa tinja bayi tidak berbahaya. Hal ini ternyata tidak benar kaena tinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak- anak dan orang tuanya. Tinja bayi harus  dibuang secara bersih dan benar. Yang harus diperhatikan adalah :

  1. i.      kumpulkan segera tinja bayi atau anak kecil dan buang ke jamban
  2. ii.      Bantu anak-anak buang air besar di tempat yang bersih dan mudah dijangkau olehnya.Bila tidak ada jamban, pilih tempat untuk membuang  tinja anak seperti didalam lubang atau di kebun kemudian ditimbun.
  3. iii.          Bersihkan dengan benar setelah buang air besar dan cuci tangannya   dengan   sabun.
  4. Sanitasi  makanan dan lingkungan
    1. Menggunakan air bersih yang cukup

Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air yang benar-benar bersih mempunyai resiko menderita diare lebih kecil dibandingkan masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih.

Masyarakat dapat mengurangi resiko terhadap seranga  diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanann di rumah. Yang harus diperhatikan oleh keluarga adalah :

  1. Ambil air bersih dari sumber air yang bersih
  2. Ambil dan simpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta gunakan gayung khusus untuk mengambil air
  3. Pelihara atau jaga sumber air dari pencemaran oleh binatang , anak-anak mandi
  4. Gunakan air yang direbus
  5. Cuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih dan cukup.
  6. Menjaga kebersihan lingkungan dan sekitarnya

Untuk kebersihan jamban, yang harus diperhatikan oleh keluarga adalah;

  1. Jamban harus berfungsi baik dan dapat dipakai oleh seluruh anggota keluarga
  2. Bersihkan jamban secara teratur
  3. Bila tidak ada jamban, jangan biarkan anak-anak pergi ke tempat buang air besar sendiri, buang air besar hendaknya jauh dari rumah, jalan setapak dan tempat anak- anak bermain serta kurang lebih 10 meter dari sumber air, hindari buang air besar tanpa alas kaki

Upaya kebersihan lingkungan lainnya yang harus diperhatikan pula   adalah perbaikan cara pembuangan sampah dan air limbah rumah tangga sehingga tidak menjadi tempat bersarangnya kuman penyebab diare dan vektor.

Pos ini dipublikasikan di BACA SEMUA ISI, Mengenal Kesehatan Masyarakat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s