HIPERTENSI sebagai penyakit Masyarakat modern

M.Fakhrurrozie,AMK,SKM
Zaleha,AMG

Berbagai survei tentang prevalensi hipertensi oleh berbagai peneliti telah dilakukan di Indonesia,namun tidak pernah dipakai satu standar baku tentang metodenya.
Penelitian ada yang dilakukan di klinik, di rumah sakit, disekolah, dan ada pula yang dilakukan di rumah-rumah penduduk.
Daerah penelitian pun meliputi wilayah yang cukup luas, dari desa sampai kota besar, baik di Jawa maupun di luar Jawa.
Profesi objeknya cukup beragam dari pelajar yang masih relatif muda, petani, nelayan, buruh dan enduduk daerah perbatasan kota yang mempunyai profesi beragam dari pegawai negeri, pedagangn dan lain-lain.
Usia jelas mencakup usia muda sampai yangsudah tua, baik pria maupun wanita.
Pengukuran tekanan darah juga dilakukan oleh banyak orang seperti perawat, mahasiswa ataupun dokter.
Maka jelas akan didapatkan variasi yang cukup luas dan hal ini terlihat pada laporan hasil penelitian mereka.
Umum
Angka terendah frekuensi hipertensi didapatkan dari Lembah Baliem di Irian Jaya, suatu daerah pedalaman yang masih belum tersentuh kehidupan modern, yang dialporkan oleh Goenawan S sebesar 0,65% dari populasi.
Sedang angka tertinggi dilaporkan dari Sukabumi di Jawa Barat sebesar 28,6%.
Angka rata-rata yang diperhitungkan dari laporan penyelidikan yang dapat dihimpun adalah anatara 9-10%.
Data di atas menunjukkan frekuensi hipertensi di Indonesia tak berbeda dengan negara-negara lain, seperti : Hongkong 7,5% , Singapura 14% , Korea 10,55 , Filipina 14,4% , Thailand 13,6 %, Kanada 14,9 % dan USA 15% (kulit putih) serta 27% (kulit hitam).
Insiden
Insiden hipertensi sekitar 5% pada dewasa muda, 20% pada usia 50-60 tahun, dan 50% pada usia 80 tahun. Insiden ini lebih tinggi pada orang Afrika-Amerika, dan meningkat pada mereka yang menderita diabetes melitus atau insufisiensi ginjal
Risiko
Hipertensi meningkatkan risko penyakit-penyakit berikut ini :
– Infark miokard
– Stroke
– Gagal ginjal (terutama nefrosklerosis)
– Gagal jantung
– Aneurisma arteri
– Penyakit pembuluh darah perifer
Risiko terjadinya komplikasi pada pembuluh darah ditingkatkan oleh hal-hal berikut ini
– Merokok
– Stress emosional
– Ketakutan atau kecemasan
– Usia (usia lebih tua mempunyai prognosis lebih buruk)
– Bersamaan dengan penyakit arteri (misalnya aterosklerosis, aneurismas, diabetes melitus)
– Ras (pasien Afrika-Anerika mempunyai prognosis yang buruk)
– Hipertrofi ventrikel kiri (LVH)
– Hiperkolesterolemia
– Obesitas/kurang aktivitas
– Riwayat keluarga penderita penyakit pembuluh darah
Hipertensi mempercepat kerusakan yang disebabkan oleh penyakit lain yang menyerang jantung dan ginjal. Sebagai contoh, menurunnya fngsi ginjal pada pasien nefrofati diabetik lebih besar bila hipertensi tidak diterapi secara adekuat.
Lokasi
Penelitian hipertensi di pedesaan menunjukkan frekuensi yang lebih rendah, dibandingkan dari kota, misalnya Lembah Baliem 0,65% (Goenawan S), desa Kalirejo,Jateng 1,8% (Boedhi Darmoyo). Dari daerah perkotaan seperti Semarang didapatkan angka 9,3%(Harmaji), Ujungpandang 6 & 8% (Agus Tessy), pinggiran kota Jakarta 14,2 % (E>Susalit) yang tertinggi dari sukabumi 28%.
Disamping itu ada juga laporan dari daerah yang mungkin merupakan perbatasan atau desa yang dekat dengan kota seperti laporan Palembang 6,7% (A.Ganie), pedesaan Semarang 8,6% (Boedi R), pedesaan Bali 11,6% (K.Suwitra).
Jenis Kelamin
Tampaknya tidak ada perbedaan yang bermakna antra laki dan perempuan dalam frekuensi hipertensi ini
Didaptkan angka yang kurang lebih sama dari laporan beberapa penelitian antara lain : laki diabnding perempuan sbb: Moerdowo (Bali) 3;1 ; harmaji (kota Semarang) 1;1,5 ; Nairbohu (Arun) 1;1,2 ; Sukabumi 1;1 ; Saharman (Sumbar) 1;1 ; K.Suwitra (Bali 1;1,2 dan a. Ganie (palembang) 1;1,4
Umur
Bertambah umur seseorang makin tinggi frekuensi hipertensi, hal ini dibuktikan dengan penelitian Boedi R dan Saharman sepert pada tabel di bawah ini.

Umur Frekuensi
Boedi R Saharman
Sd 20
21 – 30
31 – 40
41 – 50
51 – 60
>60
6.1
6.7
10.1
10.2
13.0 5.7
12.6
16.4
18.5
26.8
28.7

Penyakit
Tidak banyak data mengenai frekuensi hipertensi pada penderita dengan penyakit tertentu. Hanya frekuensi hipertensi pada penderita DM, yaitu 23% yang dirawat, dan 27% yang berobat jalan, serta bila penderitanya juga obese frekuensi menjadi 34,7% sedang bila tidak obese hanya 25,2% (Harun Rasid L)
Profesi/ Lingkungan
Mungkin juga berpengaruh pada timbulnya hipertensi, hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian Agus Tessy petani 7,9 %, nelayan 9,7 % danindustri 11,8 %. Juga telah diteliti frekuensi hipertensi pada penduduk pegunungan (Soeharyo), anak pelajar SMA (Harahap) dan anak remaja (Rohamah).
Suku Bangsa
Syakib mengutip frekuensi pada beberapa suku bangsa sbb: Irian Jaya (Lembah Baliem) 0,65%, Dayak 6,1 %, Batak 6,6%, Sunda 8,6%, Jawa 11,4%
Genetik
Risiko menderita hipertensi meningkat enam kali lipat jika salah satu orangtua juga menderita hipertensi, dan sepuluh kali lipat jika kembar idnetik juga menderita hipertensi.
Pengukuran Tekanan darah pada Hipertensi (J.Pudji Raharjo)
Nilai tekanan darah ini perlu, misalnya dalam mendapatkan data-data prevalensi, pola hipertensi, perubahan nilai/tinggi tekanan darah akibta terapi dan pengruh faktor-faktor lain yang mungkin ada.
Tekanan darah
Tekanan di dalam pembuluh darah timbul akibat mengalirnya darah yang dipompa jantung waktu menguncup dan mengisi aorta dan cabang –cabangnya sampai perifer.
Tekanan tersebut meningkat cepat sewaktu jantung kontraksi yang disebut tekanan sistolik, dan kemudian menurun sesuai keadaan jantung yang mengmbang lagi sampai nilai tertentu dan disebut tekanan diastolik.
Tekanan ini secara tradisional dinyatakan dalam mmHg (air raksa) dan ditulis sebagai berikut : TS/TD mmHg.
Faktor yang berpengaruh pada pengukuran tekanan darah ditentukan oleh :
– Penderita
– Pemeriksa
– Keadaan alat/tensimeter
– Teknik pengukuran
Klasifikasi
Setiap pasien dengan hipertensi harus diklarifikasi menurut jenis patologinya (benigna, terakselarasi, atau meligna) dan penyebab utama (esensial atau sekunder)
Menurut jenis patologi :
– Hipertensi Benigna
Hipertensi benigna biasanya asimtomatik dan berkembang secara lambat. Perubahan patologis pada arteri besar dan kecil berupa hipertrofi konsentris di bagian medialtanpa adanyanekrosis. Pemeriksaan patologis seringkali memperlihatkan hieprtrofi jantung dan fibrosis dan sklerosis pada ginjal.
– Hipertensi Terakselerasi
Hipertensi terakselerasi berupa peningkatan TD yang terakhir melebihi tekanan sebelumnya, disertai dengan danya kerusakan pembuluh darah pada fundus, tetapi tanpa adanya edema papil.
– Hipertensi Maligna
Hipertensi maligna sekarang berjumlah kurang dari 1% dari semua hipertensi. Timbul tanda berupa edema papil, perdarahan, dan eksudat pada retina. TD biasanya lebih dari 200/120mmHg. Biasanya disertai dengan sakit kepala dan munculnya tanda-tandaneurologis yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial dan timbul iskemia. Keadaan ini dapat berlanjut menjadi kejang, defisit neurologis yang menetap , koma dan kematia. Sebagian besar pasien mengalami proteinuria dan secara capat berlanjut menjadi gagal ginjal. Beberapa mengalami anemia hemolitik mikroangiopati.
Hipertensi maligna seringkali tiba-tiba terjadi pada psien dengan hipertensi yang berlangsung lama, yang mungkin mempunyai suatu penyebab sekunder seperti stenosis arteri ginjal. Umur harapan hidup pasien dengan hipertensi maligna yang tidak diobati sekitar 3-4 bulan. Karena fungsi ginjal memburuk secara cepat, penatalaksanaan sesegera mungkin.
Hipertensi menurut jenis penyebab utamanya :
– Hipertensi Esensial
Meliputi sebagian besar pasien (90-98%) yang tidak terlihat penyebab lain yang jelas. Sebagian besar (60%) mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi yang biasanya berusia 20 dan 55 tahun.
– Hipertensi Sekunder
Meliputi 2-10% dari pasien hipertensi yang telah diketahui penyebabnya.

Penyebab Prevalensi (%)
Penyakit Parenkim ginjal
Penyakit renovaskular
Aldosteronisme primer
Feokromositoma
Sindrom Cushing
Berhubungan dengan obat 5
0,5-5
<0,5
<0,2
<0,2
0,1-1
Kolesterol
Kolesterol adalah senyawa mirip lemak yang terdapat pada membran sel dan sebagai prekusor asam empedu dan hormon steroid. Perjalanan kolesterol dalam darah pada partikel yang jelas mengandung lemak dan protein (lipoprotein).

Tiga hasil penelitian utama menemukan bahwa bila kadar kolesterol meningkat maka insiden penyakit jantung dan pembuluh darah meningkat pula. Penelitian Framingham juga mendapatkan bahwa bila kadar kolesterol darah meningkat dari 150 mg% menjadi 260mg%, maka risiko untuk penyakit jantung meningkat 3 kali lipat.
Negeri-negeri seperti Amerika Serikat dan Finlandia, di mana populasinya memiliki kadar kolesterol darah yang tinggi di dunia. Pada negeri di mana populasinya memiliki kadar kolesterol darah yang rendah maka sedikit atau tidak ada kasus penyakit jantung.
Suatu penelitian yang dilakukan oleh Klinik Riset Lipid di Amerika Serikat menemukan bahwa terdapat korelasi yang sama antara kadar kolesteroldan risiko penyakit jantung. Di samping itu, penelitian ini menemukan bahwa untuk setiap penurunan 1 % kadar kolesterol darah, maka akan terjadi penurunan risiko timbulnya penyakit jantung sebesari 2 %.
Pengangkutan Kolesterol
Cara kolesterol diangkut di dalam aliran darah juga indikator dari risiko timbulnya penyakit jantung.
Karena kolestrol merupakan lemak, maka ia tidak dapat mengapung dengan bebas di dalam medium darah yang berupa air. Seperti lemak yang menyumbat saluran tempat cuci piring di dapur, maka kolestero dapat juga menyumbat pembuluh darah. Untuk mengangkut kolesterol dan lemak-lemak lainnya dari satu tempat ke tempat lain dalam badan, maka darah membungkus kolesterol tersebut dengan berbagai lipoprotein yang larut dalam air..
Liporotein yang mengangkut kolesterol dalam darah termasuk :
– kilomikron
– VLDL (lipoprotein densitas sangat rendah)
– LDL (lipoprotein yang densitasnya rendah
– HDL (lipoprotein yang densitasnya tinggi)
Nilai Koesterol Darah : Normal Versus Optimal
Mula-mula seseorang harus menjalani tes darah untuk menentukan nilai-nilai normal dari kolesterol total dan kolesterol HDL. Jika kolesterol total di bawah 150 mg% maka orang tersebut dianggap memiliki risiko yang rendah untu aterosklerosis atau penyakit jantung.
Jika nilainya lebih besar dari 150 mg% maka rasio dari kolesterol HDl harus ditentukan, dengan cara membagi kolesterol total dengan kolesterol HDL dan dikalikan 100. Jika rasionya ≥4,5 :1 maka seseorang memiliki risiko tinggi untuk penyakit kardiovaskuler. Jika rasio ≤ 35 : 1 menempatkan seseorang ke dalam kelompok risiko rendah untuk timbulnya PKV.

Tabel …… Menentukan Rasio dari Kolesterol HDl dengan Kolesterol Total

Kolesterol Total (mg/dl) X 100 =
Kolestero HDL (mg/dl)
Contoh :
1. 260 mg/dl kolsterol total x 100 = 6,5 : 1*
40 mg/dl koleterol HDL
*Orang ini kemungkinan serangan jantung atau stroke sebelum umur 60
2. 200 mg/dl kolesterol total x 100 = 3,0 : 1**
60 mg/dl Kolesterol HDL
** Orang ini kecil kemungkinannya untuk mendapat serangan jantung atau stroke

DAFTAR PUSTAKA

C.Craig Tisher dan Christopher S. Wilcox, Nefrologi,Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, jakarta,1997
Badan POM,Informasi Produk Terapetik, Kolesterol, Vol.12 No.2 Nopember 2003
Dr.Petrus Lukmanto, Serangan Jantung, Pharos Bulletin 4 ,1986

Iklan
Pos ini dipublikasikan di BACA SEMUA ISI dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s